Proses TKDN perusahaan manufaktur perlu dipahami sejak awal karena penilaian berkaitan dengan produk, komponen, biaya, dan bukti produksi. Banyak perusahaan sudah memiliki produk siap jual, tetapi belum tentu siap saat masuk pemeriksaan dokumen. Akibatnya, proses bisa berjalan bolak-balik karena data awal belum tertata.
Alur pengurusan TKDN untuk industri manufaktur bukan hanya soal pendaftaran dan menunggu hasil. Di dalamnya ada penentuan produk, penyusunan komponen, pembuktian asal barang, sampai pemeriksaan proses produksi. Semakin rapi data yang disiapkan, semakin jelas arah pengurusan dari awal sampai sertifikat terbit.
- 20 Langkah Penting yang Sebaiknya Dipahami Sebelum Memulai Proses TKDN Perusahaan Manufaktur
- Uraian Singkat Tentang TKDN Perusahaan Manufaktur
- Alasan Proses TKDN Penting bagi Perusahaan Manufaktur
- Waktu Tepat Proses TKDN Perusahaan Manufaktur
- Pihak yang Terlibat dalam Proses TKDN Perusahaan Manufaktur
- Pihak internal yang biasanya terlibat:
- Pihak eksternal yang biasanya terlibat:
- Bagaimana Proses TKDN Perusahaan Manufaktur Dilakukan?
- 1. Menentukan Produk yang Akan Dihitung TKDN
- Contoh lapangan:
- Yang perlu dipastikan:
- 2. Mengidentifikasi Kategori Produk dan Kesesuaian Bidang Usaha
- Contoh lapangan:
- Yang perlu diperiksa:
- 3. Menyiapkan Legalitas Perusahaan
- Dokumen yang perlu disiapkan:
- Yang sering perlu dicek:
- 4. Menyiapkan Data Produk dan Spesifikasi Teknis
- Data yang perlu disiapkan:
- Contoh penjelasan produk:
- 5. Membuat Alur Proses Produksi
- Contoh urutan proses:
- Yang perlu dijelaskan:
- 6. Menyusun Bill of Material atau Daftar Komponen Produk
- Isi daftar komponen:
- Contoh komponen lapangan:
- 7. Mengelompokkan Komponen Lokal dan Komponen Impor
- Kelompok yang perlu dibuat:
- Hal yang perlu hati-hati:
- 8. Mengumpulkan Bukti Pembelian Komponen
- Dokumen yang biasa disiapkan:
- Contoh pengecekan lapangan:
- 9. Menyiapkan Bukti Asal Komponen
- Bukti yang bisa disiapkan:
- Yang perlu dipastikan:
- 10. Menyusun Struktur Biaya Produksi
- Komponen biaya yang perlu disusun:
- Contoh biaya lapangan:
- 11. Melakukan Simulasi Perhitungan TKDN
- Yang dihitung dalam simulasi:
- Manfaat simulasi:
- 12. Menyiapkan Dokumen Pendukung Produksi
- Dokumen yang bisa disiapkan:
- Contoh bukti lapangan:
- 13. Menghubungi Lembaga Verifikasi TKDN
- Data awal yang biasanya disampaikan:
- Hal yang perlu ditanyakan:
- 14. Melakukan Pengajuan TKDN
- Data yang diajukan:
- Yang perlu dicek sebelum pengajuan:
- 15. Pemeriksaan Dokumen oleh Verifikator
- Yang biasanya diperiksa:
- Contoh temuan dokumen:
- 16. Verifikasi Lapangan ke Lokasi Produksi
- Yang perlu dipersiapkan di lokasi:
- Contoh hal yang diperiksa:
- 17. Melakukan Klarifikasi dan Perbaikan Data
- Yang perlu dilakukan:
- Contoh perbaikan lapangan:
- 18. Perhitungan Final Nilai TKDN
- Dasar yang diperhatikan:
- Yang perlu dipahami:
- 19. Penerbitan Sertifikat TKDN
- Informasi yang biasanya tercantum:
- Yang perlu dicek setelah sertifikat terbit:
- 20. Monitoring Masa Berlaku dan Perubahan Produk
- Yang perlu dimonitor:
- Contoh perubahan yang perlu diperhatikan:
- Konsultasi Proses TKDN Perusahaan Manufaktur
20 Langkah Penting yang Sebaiknya Dipahami Sebelum Memulai Proses TKDN Perusahaan Manufaktur
Sebelum memulai proses TKDN perusahaan manufaktur, perusahaan manufaktur sebaiknya memahami gambaran besar tahapannya lebih dulu. Tahapan pengurusan kandungan dalam negeri pada produk manufaktur biasanya dimulai dari persiapan, pengajuan, verifikasi, penerbitan sertifikat, lalu monitoring. Gambaran awal tersebut membantu proses tidak terasa seperti masuk ruang arsip tanpa lampu.
Dua puluh langkah dalam artikel ini disusun agar alur proses TKDN perusahaan manufaktur lebih mudah dipahami. Setiap langkah menjelaskan bagian yang perlu dipahami, disiapkan, atau diperiksa oleh perusahaan. Dengan urutan yang rapi, proses yang awalnya terasa rumit bisa dipetakan menjadi pekerjaan yang lebih jelas.
Uraian Singkat Tentang TKDN Perusahaan Manufaktur
Ulasan tentang TKDN perusahaan manufaktur perlu dimulai dari cara melihat produk. TKDN menunjukkan besarnya kandungan dalam negeri pada barang yang dibuat, dirakit, atau diproses oleh perusahaan. Penilaian bisa berkaitan dengan bahan baku, komponen, tenaga kerja, proses produksi, fasilitas, dan biaya pendukung.
Uraian ringkas mengenai TKDN pada industri manufaktur penting karena produk pabrik sering terdiri dari banyak bagian. Ada produk yang dibuat penuh di dalam negeri, ada juga produk yang masih memakai komponen impor. Karena itu, penilaian TKDN perlu melihat produk secara rinci, bukan hanya membaca nama barang di katalog.

Alasan Proses TKDN Penting bagi Perusahaan Manufaktur
Proses TKDN Penting bagi perusahaan manufaktur karena berkaitan dengan kebutuhan tender, pengadaan, dan kepercayaan terhadap produk. Sertifikat TKDN bisa menjadi bukti bahwa produk memiliki kandungan dalam negeri berdasarkan hasil verifikasi. Bagi perusahaan yang masuk pasar proyek, dokumen ini sering menjadi bagian penting dalam kelengkapan administrasi.
Alasan pengurusan TKDN penting untuk pabrik juga terlihat dari kebutuhan pembeli industri yang memerlukan data produk lebih jelas. Nilai TKDN membantu menunjukkan posisi produk dalam penggunaan komponen lokal dan proses produksi dalam negeri. Data yang rapi membuat produk lebih mudah dinilai, terutama saat masuk kebutuhan pengadaan atau seleksi vendor.

Waktu Tepat Proses TKDN Perusahaan Manufaktur
Waktu tepat perusahaan manufaktur mengurus TKDN biasanya muncul saat produk mulai masuk kebutuhan tender, pengadaan, atau kerja sama proyek. Pengurusan juga bisa dilakukan ketika perusahaan ingin memperkuat data legal dan teknis produk sebelum dipasarkan lebih luas. Semakin awal persiapan dilakukan, semakin kecil risiko dokumen dikejar saat kebutuhan sudah dekat.
Saat terbaik untuk memulai pengurusan TKDN bisa dilihat dari kesiapan produk. Produk sebaiknya sudah memiliki spesifikasi, proses produksi, daftar komponen, dan bukti pembelian yang cukup jelas. Jika data dasar belum tersedia, proses bisa dimulai dari penataan dokumen internal lebih dulu.

Pihak yang Terlibat dalam Proses TKDN Perusahaan Manufaktur
Pihak yang terlibat dalam proses pengurusan TKDN terbagi menjadi pihak internal dan pihak eksternal. Pihak internal berasal dari dalam perusahaan dan berperan menyiapkan data produk, dokumen, biaya, serta bukti proses produksi. Pihak eksternal berasal dari luar perusahaan dan berkaitan dengan supplier, lembaga verifikasi, serta sistem atau instansi yang berhubungan dengan pengajuan TKDN.
Pada proses pengurusan TKDN, bagian internal perlu menyiapkan data yang saling sesuai agar proses pemeriksaan tidak tersendat. Sementara itu, pihak eksternal yang membantu memperkuat bukti asal komponen, melakukan pemeriksaan, atau menjadi bagian dari alur pengajuan. Jika peran internal dan eksternal dipahami sejak awal, persiapan TKDN perusahaan manufaktur menjadi lebih sesuai dan mudah.

Pihak internal yang biasanya terlibat:
- Manajemen perusahaan: Mengambil keputusan pengajuan TKDN, menentukan produk yang diprioritaskan, dan menyetujui kebutuhan dokumen.
- Bagian produksi: Menjelaskan alur produksi, mesin yang digunakan, kapasitas produksi, dan proses pembuatan produk.
- Bagian engineering atau teknis: Menyiapkan spesifikasi produk, gambar teknik, tipe produk, dan penjelasan teknis produk.
- Bagian pembelian atau procurement: Menyiapkan data supplier, invoice, purchase order, bukti pembelian, dan asal komponen.
- Bagian keuangan atau accounting: Menyiapkan struktur biaya produksi, biaya material, biaya tenaga kerja, overhead, dan data pendukung biaya.
- Bagian gudang: Menyediakan data stok bahan baku, komponen, barang setengah jadi, dan produk jadi.
- Bagian quality control: Menyiapkan bukti pemeriksaan mutu, form QC, hasil testing, dan catatan kualitas produk.
- Bagian legal atau administrasi: Menyiapkan NIB, akta, SK Kemenkumham, NPWP, izin usaha, profil perusahaan, dan dokumen legal lainnya.
Pihak eksternal yang biasanya terlibat:
- Supplier atau pemasok komponen: Memberikan invoice, surat jalan, keterangan asal barang, dan informasi apakah komponen berasal dari dalam negeri atau luar negeri.
- Distributor bahan atau komponen: Membantu menjelaskan asal barang, terutama jika komponen dibeli lokal tetapi barangnya berasal dari luar negeri.
- Subkontraktor produksi: Terlibat jika ada sebagian proses produksi yang dikerjakan pihak luar, misalnya coating, machining, welding, atau finishing.
- Lembaga verifikasi TKDN: Melakukan pemeriksaan dokumen, verifikasi data, kunjungan lapangan jika diperlukan, dan penilaian sesuai mekanisme yang berlaku.
- Instansi atau sistem resmi terkait TKDN: Menjadi jalur administrasi pengajuan, pencatatan, dan penerbitan hasil sesuai ketentuan yang berlaku.
- Jasa Konsultan TKDN: Membantu membaca kesiapan dokumen, merapikan data produk, memetakan komponen, dan mendampingi proses dengan benar.
Bagaimana Proses TKDN Perusahaan Manufaktur Dilakukan?
Proses TKDN perusahaan manufaktur dilakukan melalui beberapa tahap besar. Tahap tersebut meliputi persiapan data dan dokumen, pengajuan, verifikasi, penerbitan sertifikat, dan monitoring setelah sertifikat terbit. Urutan besar ini membantu perusahaan memahami posisi setiap pekerjaan dalam proses TKDN.
Alur proses TKDN perusahaan manufaktur perlu dibuat urut agar tidak ada data penting yang terlewat. Tahapan pengurusan TKDN manufaktur dimulai dari memastikan produk, legalitas, komponen, biaya, dan bukti produksi sudah siap diperiksa. Setelah itu, proses berlanjut ke pemeriksaan dokumen, verifikasi lapangan, hasil perhitungan, sertifikat, dan pemantauan perubahan produk.
1. Menentukan Produk yang Akan Dihitung TKDN
Langkah pertama adalah menentukan produk mana yang ingin diajukan sertifikasi TKDN. Untuk perusahaan manufaktur, satu perusahaan bisa memiliki banyak produk, tetapi pengajuan TKDN biasanya dihitung berdasarkan produk tertentu atau kelompok produk tertentu. Nama produk yang terlalu umum perlu dibuat lebih spesifik agar ruang lingkup pengajuan lebih jelas.
Contoh lapangan:
- Pabrik panel listrik: panel LVMDP, panel SDP, panel kontrol.
- Pabrik mesin: mesin pengolah makanan, conveyor, mixer.
- Pabrik alat kesehatan: bed pasien, kursi roda, alat bantu medis.
- Pabrik komponen bangunan: pintu baja, kusen aluminium, floor deck.
- Pabrik furnitur: meja kerja, kursi kantor, lemari arsip.
Yang perlu dipastikan:
- Nama produk jelas.
- Fungsi produk jelas.
- Spesifikasi produk tersedia.
- Produk benar-benar diproduksi atau dirakit oleh perusahaan.
- Produk punya alur produksi yang bisa dibuktikan.
2. Mengidentifikasi Kategori Produk dan Kesesuaian Bidang Usaha
Setelah produk ditentukan, perusahaan perlu melihat kategori produk dan kesesuaian bidang usaha. Kesesuaian ini penting karena produk yang diajukan harus selaras dengan kegiatan produksi perusahaan. Jika produk tidak sesuai dengan legalitas atau bidang usaha, proses pemeriksaan bisa menimbulkan pertanyaan sejak awal.
Contoh lapangan:
- Pabrik panel listrik perlu sesuai dengan kegiatan produksi panel atau peralatan listrik.
- Pabrik alat kesehatan perlu menyesuaikan produk dengan izin usaha yang relevan.
- Pabrik komponen bangunan perlu menunjukkan kegiatan produksi yang sesuai.
- Perusahaan perakitan perlu menjelaskan posisi sebagai produsen, perakit, atau pemilik merek.
Yang perlu diperiksa:
- KBLI yang dimiliki perusahaan.
- Izin usaha atau izin industri.
- Kegiatan produksi yang benar-benar berjalan.
- Alamat kantor dan lokasi produksi.
- Hubungan antara produk dengan bidang usaha.
3. Menyiapkan Legalitas Perusahaan
Legalitas perusahaan menjadi dasar administrasi dalam proses TKDN. Dokumen legal digunakan untuk membuktikan bahwa perusahaan pemohon merupakan badan usaha yang sah dan memiliki izin untuk menjalankan kegiatan produksi. Data legal juga perlu sinkron dengan produk, alamat, dan kegiatan usaha yang diajukan.
Dokumen yang perlu disiapkan:
- NIB perusahaan.
- Akta pendirian dan perubahan.
- SK Kemenkumham.
- NPWP perusahaan.
- Izin usaha atau izin industri.
- Data alamat kantor.
- Data lokasi produksi.
- Profil perusahaan.
Yang sering perlu dicek:
- Nama perusahaan sama di seluruh dokumen.
- Alamat tidak berbeda-beda tanpa penjelasan.
- KBLI sesuai dengan produk.
- Lokasi produksi bisa dibuktikan.
- Dokumen perubahan perusahaan sudah diperbarui.
4. Menyiapkan Data Produk dan Spesifikasi Teknis
Data produk diperlukan agar produk yang diajukan mudah dipahami oleh pihak pemeriksa. Spesifikasi teknis menjelaskan bentuk, fungsi, ukuran, kapasitas, bahan, dan penggunaan produk. Tanpa data teknis yang jelas, produk bisa terlihat terlalu umum dan sulit dinilai secara tepat.
Data yang perlu disiapkan:
- Nama produk.
- Merek produk jika ada.
- Tipe atau model produk.
- Spesifikasi teknis.
- Foto produk.
- Katalog atau brosur.
- Gambar teknik jika tersedia.
- Fungsi produk.
- Kapasitas atau ukuran produk.
Contoh penjelasan produk:
- Panel kontrol motor untuk sistem penggerak mesin produksi.
- Conveyor makanan untuk memindahkan bahan pada lini produksi.
- Rak baja industri untuk penyimpanan barang gudang.
- Mesin mixer kapasitas tertentu untuk pengolahan bahan.
5. Membuat Alur Proses Produksi
Alur proses produksi menjelaskan bagaimana produk dibuat dari bahan awal sampai menjadi produk jadi. Pada perusahaan manufaktur, bagian ini penting karena TKDN menilai unsur produksi yang dilakukan di dalam negeri. Alur yang jelas membantu menunjukkan bahwa produk benar-benar melewati proses produksi, bukan hanya dibeli lalu dijual kembali.
Contoh urutan proses:
- Penerimaan bahan baku.
- Pemeriksaan bahan.
- Pemotongan material.
- Pembentukan atau machining.
- Perakitan.
- Pengelasan jika diperlukan.
- Finishing atau pengecatan.
- Quality control.
- Testing.
- Packing.
- Pengiriman.
Yang perlu dijelaskan:
- Proses dilakukan di lokasi produksi mana.
- Mesin atau alat yang digunakan.
- Tenaga kerja yang terlibat.
- Hasil dari setiap tahap produksi.
- Bukti proses yang bisa ditunjukkan.
6. Menyusun Bill of Material atau Daftar Komponen Produk
Bill of Material atau daftar komponen produk berisi bahan dan komponen yang dipakai untuk membuat produk. Dalam proses TKDN, daftar ini menjadi salah satu dasar utama untuk melihat kandungan lokal dan impor. Semakin rapi daftar komponen, semakin mudah proses penelusuran biaya dan asal barang.
Isi daftar komponen:
- Nama bahan atau komponen.
- Spesifikasi komponen.
- Jumlah kebutuhan.
- Satuan penggunaan.
- Nama supplier.
- Asal komponen.
- Nilai biaya.
- Keterangan lokal atau impor.
Contoh komponen lapangan:
- Plat baja untuk bodi panel.
- Kabel untuk rangkaian listrik.
- Baut dan mur untuk perakitan.
- Motor listrik untuk mesin.
- Sensor untuk sistem otomatis.
- Cat atau coating untuk finishing.
7. Mengelompokkan Komponen Lokal dan Komponen Impor
Setelah daftar komponen dibuat, perusahaan perlu mengelompokkan komponen lokal dan komponen impor. Pengelompokan ini membantu melihat bagian produk yang berasal dari dalam negeri dan bagian yang masih berasal dari luar negeri. Komponen yang dibeli dari supplier lokal tetap perlu dicek asal barang.
Kelompok yang perlu dibuat:
- Komponen dalam negeri.
- Komponen luar negeri.
- Komponen campuran.
- Komponen dari supplier lokal.
- Komponen impor yang dibeli melalui distributor.
- Jasa atau proses produksi lokal.
Hal yang perlu hati-hati:
- Barang beli di toko lokal belum tentu barang lokal.
- Distributor lokal bisa menjual barang impor.
- Komponen lokal perlu bukti pendukung.
- Komponen impor perlu dicatat jelas.
- Status asal komponen jangan hanya berdasarkan asumsi.
8. Mengumpulkan Bukti Pembelian Komponen
Bukti pembelian diperlukan untuk mendukung daftar komponen yang sudah disusun. Daftar komponen tanpa bukti pembelian bisa sulit diperiksa karena tidak ada dasar transaksi yang jelas. Dokumen pembelian membantu menunjukkan bahwa komponen benar-benar digunakan dalam proses produksi.
Dokumen yang biasa disiapkan:
- Invoice pembelian.
- Purchase order.
- Faktur pajak.
- Surat jalan.
- Bukti pembayaran.
- Dokumen penerimaan barang.
- Rekap pembelian.
- Data supplier.
Contoh pengecekan lapangan:
- Nama barang pada invoice sesuai dengan daftar komponen.
- Jumlah pembelian masuk akal dengan volume produksi.
- Nama supplier jelas.
- Tanggal pembelian masih relevan.
- Nilai biaya bisa ditelusuri.
9. Menyiapkan Bukti Asal Komponen
Bukti asal komponen digunakan untuk menjelaskan dari mana komponen berasal. Bagian ini penting karena tidak semua barang yang dibeli di dalam negeri otomatis dianggap sebagai komponen lokal. Dalam banyak kasus, asal barang perlu diperkuat dengan keterangan supplier atau dokumen pendukung lain.
Bukti yang bisa disiapkan:
- Surat keterangan dari supplier.
- Dokumen asal barang.
- Dokumen impor jika komponen berasal dari luar negeri.
- Profil produsen lokal.
- Bukti produksi lokal dari pemasok.
- Katalog supplier.
- Dokumen pengiriman barang.
Yang perlu dipastikan:
- Supplier bisa menjelaskan asal barang.
- Komponen lokal memiliki pendukung yang wajar.
- Komponen impor tidak disamarkan sebagai komponen lokal.
- Dokumen asal barang sesuai dengan nama komponen.
- Data supplier bisa ditelusuri.
10. Menyusun Struktur Biaya Produksi
Struktur biaya produksi menunjukkan biaya yang membentuk produk. Dalam produk manufaktur, biaya tidak hanya berasal dari material, tetapi juga tenaga kerja, proses produksi, mesin, utilitas, dan biaya pabrik lain. Struktur biaya yang jelas membantu proses perhitungan TKDN berjalan dengan tepat.
Komponen biaya yang perlu disusun:
- Biaya bahan baku.
- Biaya komponen lokal.
- Biaya komponen impor.
- Biaya tenaga kerja produksi.
- Biaya overhead pabrik.
- Biaya listrik dan utilitas.
- Biaya mesin atau penyusutan alat.
- Biaya subkontrak jika ada.
- Biaya quality control.
Contoh biaya lapangan:
- Biaya plat, kabel, baut, motor, dan sensor.
- Biaya operator produksi.
- Biaya pengecatan atau coating.
- Biaya pengujian produk.
- Biaya pemakaian mesin.
11. Melakukan Simulasi Perhitungan TKDN
Simulasi perhitungan TKDN dilakukan sebelum pengajuan resmi agar perusahaan memiliki gambaran awal. Simulasi ini membantu melihat porsi komponen lokal, komponen impor, tenaga kerja, dan proses produksi dalam negeri. Hasil simulasi bukan nilai final, tetapi bisa menjadi alat bantu untuk melihat kesiapan data.
Yang dihitung dalam simulasi:
- Total biaya produksi.
- Total komponen lokal.
- Total komponen impor.
- Biaya tenaga kerja lokal.
- Biaya proses produksi lokal.
- Biaya overhead produksi.
- Perbandingan unsur lokal dan impor.
Manfaat simulasi:
- Melihat gambaran awal nilai TKDN.
- Mengetahui komponen yang perlu diperjelas.
- Menemukan dokumen yang belum lengkap.
- Mengurangi risiko revisi besar.
- Membantu persiapan sebelum verifikasi.
12. Menyiapkan Dokumen Pendukung Produksi
Dokumen pendukung produksi digunakan untuk membuktikan bahwa perusahaan benar-benar melakukan proses produksi. Dokumen ini melengkapi data produk, daftar komponen, dan struktur biaya. Untuk manufaktur, bukti proses produksi penting karena menunjukkan aktivitas nyata di pabrik atau workshop.
Dokumen yang bisa disiapkan:
- SOP produksi.
- Flow process produksi.
- Layout pabrik atau workshop.
- Daftar mesin produksi.
- Foto mesin.
- Foto proses produksi.
- Foto gudang bahan baku.
- Data tenaga kerja produksi.
- Form quality control.
- Laporan produksi.
- Kapasitas produksi.
Contoh bukti lapangan:
- Foto proses cutting, bending, welding, assembly, dan testing.
- Daftar operator produksi.
- Form pemeriksaan mutu.
- Bukti penggunaan mesin.
- Catatan hasil produksi.
13. Menghubungi Lembaga Verifikasi TKDN
Setelah dokumen awal lebih tertata, perusahaan bisa menghubungi lembaga verifikasi TKDN. Tahap ini berguna untuk memperoleh arahan mengenai kebutuhan dokumen dan kesiapan produk. Komunikasi awal juga membantu perusahaan memahami apakah data yang sudah disiapkan masih perlu dilengkapi.
Data awal yang biasanya disampaikan:
- Nama perusahaan.
- Jenis produk.
- Lokasi produksi.
- Bidang usaha.
- Legalitas dasar.
- Spesifikasi produk.
- Gambaran proses produksi.
- Ketersediaan daftar komponen.
- Kesiapan dokumen biaya.
Hal yang perlu ditanyakan:
- Dokumen apa saja yang perlu dilengkapi.
- Apakah produk perlu dipisah per tipe.
- Apakah verifikasi lapangan diperlukan.
- Bagaimana alur pemeriksaan dokumen.
- Perkiraan waktu proses.
14. Melakukan Pengajuan TKDN
Pengajuan TKDN dilakukan dengan menyampaikan data perusahaan, data produk, dokumen teknis, daftar komponen, dan struktur biaya sesuai mekanisme yang berlaku. Pada tahap ini, kerapian data sangat memengaruhi kelancaran pemeriksaan. Data yang tidak sinkron bisa membuat proses kembali ke tahap perbaikan.
Data yang diajukan:
- Legalitas perusahaan.
- Profil perusahaan.
- Data produk.
- Spesifikasi teknis.
- Foto produk.
- Daftar komponen.
- Bukti pembelian.
- Bukti asal komponen.
- Struktur biaya produksi.
- Dokumen pendukung produksi.
Yang perlu dicek sebelum pengajuan:
- Nama produk sama di seluruh dokumen.
- Tipe produk tidak berubah-ubah.
- Nilai biaya masuk akal.
- Supplier tercatat jelas.
- Dokumen produksi sudah siap.
15. Pemeriksaan Dokumen oleh Verifikator
Setelah pengajuan masuk, verifikator akan memeriksa dokumen yang disampaikan. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat kesesuaian antara legalitas, produk, komponen, biaya, dan bukti produksi. Jika ada bagian yang belum jelas, perusahaan biasanya perlu memberikan penjelasan tambahan.
Yang biasanya diperiksa:
- Legalitas perusahaan.
- Kesesuaian bidang usaha.
- Data produk.
- Spesifikasi teknis.
- Bill of Material.
- Bukti pembelian komponen.
- Bukti asal komponen.
- Struktur biaya produksi.
- Dokumen produksi.
- Keterangan supplier.
Contoh temuan dokumen:
- Nama produk berbeda antara katalog dan pengajuan.
- Invoice tidak mencantumkan spesifikasi barang.
- Supplier belum jelas asal barang.
- Data biaya belum lengkap.
- Alur produksi belum tergambar.
16. Verifikasi Lapangan ke Lokasi Produksi
Verifikasi lapangan dilakukan untuk melihat kondisi produksi secara langsung. Pemeriksaan ini membantu memastikan bahwa data dokumen sesuai dengan keadaan di pabrik atau workshop. Untuk perusahaan manufaktur, tahap ini penting karena proses produksi menjadi bagian dari pembuktian TKDN.
Yang perlu dipersiapkan di lokasi:
- Area produksi.
- Mesin dan peralatan.
- Gudang bahan baku.
- Produk setengah jadi.
- Produk jadi.
- Area quality control.
- Dokumen pendukung.
- Tim produksi yang memahami alur kerja.
Contoh hal yang diperiksa:
- Apakah mesin sesuai dengan proses yang ditulis.
- Apakah bahan baku tersedia.
- Apakah proses produksi berjalan.
- Apakah produk jadi sesuai spesifikasi.
- Apakah lokasi produksi sesuai dokumen.
17. Melakukan Klarifikasi dan Perbaikan Data
Klarifikasi dilakukan jika ada data yang belum jelas setelah pemeriksaan dokumen atau verifikasi lapangan. Tahap ini bukan berarti proses gagal, tetapi bagian dari penyempurnaan data. Perusahaan perlu menanggapi temuan dengan dokumen atau penjelasan yang sesuai.
Yang perlu dilakukan:
- Menjawab pertanyaan verifikator.
- Melengkapi dokumen yang kurang.
- Memperbaiki data produk.
- Menyesuaikan daftar komponen.
- Menambahkan bukti asal barang.
- Menjelaskan struktur biaya.
- Mengoreksi data yang tidak sinkron.
Contoh perbaikan lapangan:
- Mengganti nama produk agar sama dengan katalog.
- Menambahkan invoice pendukung.
- Melampirkan surat keterangan supplier.
- Menjelaskan proses subkontrak.
- Melengkapi foto produksi.
18. Perhitungan Final Nilai TKDN
Setelah data dianggap cukup, proses masuk ke perhitungan final nilai TKDN. Nilai ini menunjukkan persentase kandungan dalam negeri pada produk yang diajukan. Perhitungan final mengacu pada data komponen, biaya, dokumen pendukung, dan hasil verifikasi.
Dasar yang diperhatikan:
- Komponen lokal.
- Komponen impor.
- Tenaga kerja dalam negeri.
- Proses produksi di dalam negeri.
- Biaya overhead produksi.
- Bukti pembelian.
- Bukti asal komponen.
- Hasil verifikasi lapangan.
Yang perlu dipahami:
- Nilai simulasi bisa berbeda dari nilai final.
- Komponen tanpa bukti bisa memengaruhi hasil.
- Proses produksi lokal perlu didukung dokumen.
- Struktur biaya harus masuk akal.
- Hasil final menjadi dasar penerbitan sertifikat.
19. Penerbitan Sertifikat TKDN
Jika proses pemeriksaan dan perhitungan sudah selesai, sertifikat TKDN bisa diterbitkan sesuai hasil verifikasi. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa produk memiliki nilai kandungan dalam negeri. Dokumen tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan tender, pengadaan, kerja sama proyek, atau kelengkapan administrasi produk.
Informasi yang biasanya tercantum:
- Nama perusahaan.
- Alamat perusahaan.
- Nama produk.
- Tipe atau model produk.
- Nilai TKDN.
- Nomor sertifikat.
- Tanggal penerbitan.
- Masa berlaku.
- Keterangan produk.
Yang perlu dicek setelah sertifikat terbit:
- Nama perusahaan sudah benar.
- Nama produk sesuai pengajuan.
- Tipe atau model tidak keliru.
- Nilai TKDN tercantum jelas.
- Masa berlaku diketahui.
- Sertifikat tersimpan rapi.
20. Monitoring Masa Berlaku dan Perubahan Produk
Setelah sertifikat TKDN terbit, perusahaan tetap perlu melakukan monitoring. Perubahan bahan, supplier, proses produksi, tipe produk, atau lokasi produksi bisa memengaruhi data TKDN. Sertifikat yang sudah terbit perlu dijaga agar tetap sesuai dengan kondisi produk sebenarnya.
Yang perlu dimonitor:
- Masa berlaku sertifikat.
- Perubahan bahan baku.
- Perubahan supplier.
- Perubahan komponen lokal.
- Perubahan komponen impor.
- Perubahan proses produksi.
- Perubahan tipe atau model produk.
- Perubahan lokasi produksi.
- Kebutuhan pembaruan data.
Contoh perubahan yang perlu diperhatikan:
- Supplier lokal diganti supplier impor.
- Komponen utama berubah spesifikasi.
- Produk lama memiliki tipe baru.
- Proses produksi dipindah ke lokasi lain.
- Sebagian pekerjaan diserahkan ke subkontraktor.
Konsultasi Proses TKDN Perusahaan Manufaktur
Proses TKDN perusahaan manufaktur membutuhkan kesiapan data yang cukup rapi sejak awal. Produk, legalitas, komponen, bukti pembelian, struktur biaya, dan proses produksi perlu dilihat sebagai satu rangkaian. Jika salah satu bagian belum siap, proses masih bisa berjalan, tetapi kemungkinan revisi menjadi lebih besar.
Konsultasi proses TKDN perusahaan manufaktur bisa menjadi langkah awal untuk menilai kesiapan sebelum pengajuan. Pemeriksaan awal membantu melihat dokumen mana yang sudah tersedia, data mana yang perlu dirapikan, dan bagian mana yang masih perlu dilengkapi. Dengan pendampingan yang tepat, perusahaan bisa masuk proses TKDN dengan arah yang lebih jelas dan tidak sekadar menebak langkah.















































